Metode Perhitungan Jadwal Sholat: Kemenag, ISNA, MWL, Umm Al-Qura, Karachi
Pernahkah Anda melihat aplikasi sholat menampilkan Subuh 04:42 sementara masjid di kampung mengumandangkan adzan 04:58? Anda bukan menemukan bug — Anda melihat dua metode perhitungan yang berbeda. Tiga dari lima sholat fardhu (Dzuhur, Ashar, Maghrib) terkait peristiwa matahari yang jelas: tengah hari, panjang bayangan tertentu, dan terbenam. Tapi Subuh dan Isya didefinisikan oleh senja — waktu sebelum terbit dan setelah terbenam saat matahari di bawah ufuk namun langit masih bercahaya. Mazhab fikih dan badan keagamaan memilih sudut depresi yang berbeda untuk mendefinisikan kapan senja dimulai/berakhir, dan itulah mengapa aplikasi jadwal sholat dan masjid bisa berbeda.
Tujuh metode utama
Di bawah ini tujuh metode yang didukung tiap aplikasi jadwal sholat besar dan dipakai hampir tiap negara mayoritas muslim. Angka adalah depresi matahari di bawah ufuk (dalam derajat) untuk mendefinisikan Subuh dan Isya.
| Metode | Sudut Subuh | Sudut Isya | Dipakai di |
|---|---|---|---|
| Kemenag RI — Kementerian Agama Republik Indonesia | 20° | 18° | Indonesia |
| ISNA — Islamic Society of North America | 15° | 15° | Amerika Serikat, Kanada |
| MWL — Rabithah al-Alam al-Islami (Muslim World League) | 18° | 17° | Eropa, Asia Timur Jauh, sebagian Afrika |
| Umm Al-Qura — Arab Saudi | 18.5° | 90 menit setelah Maghrib (Ramadhan: 120 menit) | Arab Saudi, GCC |
| Mesir — Egyptian General Authority of Survey | 19.5° | 17.5° | Mesir, Afrika, Levant |
| Karachi — University of Islamic Sciences | 18° | 18° | Pakistan, India, Bangladesh, Afganistan |
| Tehran — Institute of Geophysics, University of Tehran | 17.7° | 14° | Iran, komunitas Syiah |
| Jafari — Syiah Itsna Asyariyah | 16° | 14° | Irak, Lebanon (Syiah) |
Apa arti “sudut” itu?
Bayangkan matahari tenggelam di bawah ufuk. Saat menghilang, itulah Maghrib. Tapi langit tetap terang beberapa saat sesudahnya — pertama merah dan jingga senja sipil, lalu biru tua senja bahari, baru kemudian benar-benar gelap (akhir senja astronomis).
Posisi matahari di bawah ufuk diukur dalam derajat:
- 0° — matahari di ufuk (saat terbit/terbenam)
- 6° di bawah — akhir senja sipil (lampu biasanya dinyalakan)
- 12° di bawah — akhir senja bahari (ufuk hampir tak tampak)
- 15°–20° di bawah — senja astronomis (langit benar-benar gelap)
Subuh kebalikannya: saat matahari naik mendekati ufuk sebelum terbit, langit mulai terang. Subuh Shadiq (fajar sejati) adalah cahaya putih pertama yang menyebar horizontal — saat Subuh dimulai, dibedakan dari Subuh Kadzib (fajar dusta), pilar vertikal cahaya yang muncul sebentar lalu hilang.
Ulama meneliti fajar sejati pada lintang berbeda dan menyimpulkan sudut berbeda. Kemenag RI menetapkan 20°. ISNA memilih 15°. MWL 18°. Selisih derajat ini, meski kecil, dapat berarti 15-25 menit waktu jam di lintang menengah dan rendah seperti Indonesia.
Penjelasan setiap metode
Kemenag RI — Kementerian Agama Republik Indonesia
Dipakai di: Indonesia
Subuh: 20° · Isya: 18°
Standar resmi di Indonesia. Kemenag memakai sudut Subuh 20° (lebih lebar dari ISNA dan MWL) sehingga waktu Subuh sedikit lebih awal. Isya 18°. Dipakai oleh hampir seluruh masjid di Indonesia, termasuk NU, Muhammadiyah, dan Persis. Aplikasi resmi Kemenag (jadwalsholat.kemenag.go.id) memakai sudut ini.
ISNA — Islamic Society of North America
Dipakai di: Amerika Serikat, Kanada
Subuh: 15° · Isya: 15°
Standar mayoritas masjid di AS dan Kanada. Diadopsi 1983 setelah konsultasi panjang. Memakai sudut moderat — lebih sempit dari MWL, sehingga Subuh lebih siang dan Isya lebih awal. Cocok untuk kota lintang menengah (25°–50°LU).
MWL — Rabithah al-Alam al-Islami (Muslim World League)
Dipakai di: Eropa, Asia Timur Jauh, sebagian Afrika
Subuh: 18° · Isya: 17°
Berpusat di Makkah, didirikan 1962. Memakai sudut lebih lebar — Subuh dimulai ~20 menit lebih awal dari ISNA, Isya ~15 menit lebih lambat. Umum di Eropa dan Asia di luar Asia Selatan.
Umm Al-Qura — Arab Saudi
Dipakai di: Arab Saudi, GCC
Subuh: 18.5° · Isya: 90 menit setelah Maghrib (Ramadhan: 120 menit)
Dipakai di dua tanah haram (Makkah, Madinah) dan seluruh masjid Saudi. Isya ditetapkan dengan jeda waktu setelah Maghrib, bukan sudut senja — sebuah konvensi unik. Penyesuaian Ramadhan ke 120 menit memberi waktu lebih untuk berbuka dan makan sebelum Isya.
Mesir — Egyptian General Authority of Survey
Dipakai di: Mesir, Afrika, Levant
Subuh: 19.5° · Isya: 17.5°
Dipakai di mayoritas Afrika, Levant (Suriah, Lebanon, Yordania, Palestina), dan Mesir. Sudut Subuh lebih lebar dari MWL sehingga Subuh lebih awal. Standar resmi Mesir sejak 1981.
Karachi — University of Islamic Sciences
Dipakai di: Pakistan, India, Bangladesh, Afganistan
Subuh: 18° · Isya: 18°
Standar Asia Selatan, dipakai ratusan juta muslim. Sudut simetris (18°/18°) — Subuh dan Isya jaraknya sama dari masing-masing senja.
Tehran — Institute of Geophysics, University of Tehran
Dipakai di: Iran, komunitas Syiah
Subuh: 17.7° · Isya: 14°
Maghrib dihitung sedikit setelah matahari terbenam (saat matahari 4.5° di bawah ufuk), bukan saat tenggelam itu sendiri — mencerminkan fikih Syiah. Luas dipakai di Iran.
Jafari — Syiah Itsna Asyariyah
Dipakai di: Irak, Lebanon (Syiah)
Subuh: 16° · Isya: 14°
Mirip Tehran dengan sudut Subuh berbeda. Juga menunda Maghrib hingga matahari benar-benar tenggelam sempurna. Dipakai muslim Syiah di Irak, Lebanon, dan sebagian Teluk.
Metode mana yang harus Anda pakai?
Jawaban jujurnya: untuk muslim di Indonesia, pakai Kemenag RI. Itu standar yang dipakai NU, Muhammadiyah, Persis, dan hampir seluruh masjid di Indonesia. Sholat berjamaah selaras dengan masjid lebih penting daripada metode spesifik yang Anda ikuti. Alasannya praktis — jika masjid Anda mengumandangkan Subuh 15 menit lebih awal dari aplikasi Anda, dan Anda menunggu aplikasi, Anda akan ketinggalan jamaah.
Jika berada di luar Indonesia, norma regional:
- Indonesia, Malaysia, Brunei → Kemenag/JAKIM (mirip-mirip)
- AS / Kanada → ISNA
- Inggris, Eropa, Rusia → MWL
- Arab Saudi, UEA, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman → Umm Al-Qura
- Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, Afganistan → Karachi
- Mesir, Sudan, Libya, Levant (Suriah/Lebanon/Yordania/Palestina) → Mesir
- Iran, komunitas Syiah → Tehran atau Jafari
Soal Ashar (terpisah dari metode perhitungan)
Ashar diatur terpisah karena bergantung mazhab (mazhab fikih), bukan metode perhitungan geografis. Pembagiannya:
- Standar (Syafi'i, Hanbali, Maliki)— Ashar dimulai saat bayangan benda sama dengan tingginya + bayangan minimum siang. Di Indonesia, ini yang dipakai mayoritas (Syafi'i mazhab dominan).
- Hanafi— Ashar dimulai lebih lambat, saat bayangan = 2× tinggi benda + bayangan minimum. Sekitar 45–90 menit lebih lambat dari Ashar Syafi'i.
Rincian lengkap di artikel perbedaan waktu Ashar Syafi'i vs Hanafi.
Bagaimana dengan lintang tinggi (di atas 48°LU)?
Di Eropa utara (London, Berlin, Moskow), Kanada, dan AS utara saat musim panas, matahari tidak cukup turun di bawah ufuk pada malam hari untuk mencapai 18° atau bahkan 15°. Artinya metode standar memberi “tanpa Subuh” atau “tanpa Isya” dari Mei sampai Agustus. Masjid memakai salah satu dari tiga metode koreksi:
- Tengah malam — Subuh/Isya ditetapkan di titik tengah antara terbenam dan terbit.
- Sepertujuh malam — Isya dimulai 1/7 malam dari Maghrib; Subuh 1/7 sebelum terbit.
- Berbasis sudut — ekstrapolasi dari sudut di lintang lebih rendah.
Untuk lebih lengkap, lihat panduan jadwal sholat di lintang utara. Di Indonesia (semua di antara 11°LS dan 6°LU), hal ini tidak menjadi masalah.
Mengatur metode Anda
Di halaman kota mana pun di Jadwal Sholat, ketuk ikon Pengaturan untuk mengganti metode dan mazhab. Kami default ke Kemenag + Syafi'i untuk pengunjung Indonesia, ISNA + Syafi'i untuk AS, MWL untuk Eropa, dan Umm Al-Qura untuk Saudi berdasarkan IP — tapi Anda bisa override kapan saja.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
- Metode perhitungan jadwal sholat mana yang sebaiknya saya pakai?
- Di Indonesia, pakailah metode Kemenag RI (Subuh 20°, Isya 18°). Ini standar resmi yang dipakai mayoritas masjid — NU, Muhammadiyah, Persis, dan seluruh masjid yang merujuk pada jadwal pemerintah. Dengan begitu Anda bisa sholat berjamaah selaras dengan masjid setempat dan mengikuti waktu Imsak/Berbuka saat Ramadhan.
- Apa beda sudut Subuh 15°, 18°, dan 20°?
- Angka tersebut menunjukkan seberapa dalam matahari di bawah ufuk saat Subuh. Sudut 15° (ISNA) menetapkan Subuh dimulai saat matahari 15° di bawah ufuk — lebih dekat ke terbit. Sudut 18° (MWL, Karachi) menetapkannya lebih awal. Kemenag RI memakai 20° — paling lebar, jadi Subuh paling awal. Selisihnya bisa 15-25 menit antar metode. Semua pendapat ini didasari ijtihad ulama tentang batas Subuh Shadiq (fajar sejati).
- Mengapa Umm Al-Qura menghitung Isya berbeda?
- Umm Al-Qura memakai jeda waktu tetap dari Maghrib (90 menit biasa, 120 menit di Ramadhan), bukan sudut senja. Ini khusus Arab Saudi dan diadopsi karena alasan praktis dan sejarah — pada lintang Makkah (21.4°LU) metode sudut juga bekerja, tapi otoritas keagamaan Saudi mengkodifikasi jeda tetap. Pada Ramadhan, jeda 120 menit memberi keluarga waktu cukup untuk berbuka, sholat Maghrib, makan, dan sampai masjid sebelum Isya dan tarawih.
- Apa beda Ashar mazhab Syafi'i dan Hanafi?
- Waktu Ashar ditentukan panjang bayangan. Mayoritas (Syafi'i, Hanbali, Maliki) menyatakan Ashar dimulai saat bayangan = tinggi benda + bayangan minimum siang. Mazhab Hanafi menyatakan Ashar dimulai lebih lambat, saat bayangan = 2× tinggi benda + bayangan minimum. Dalam praktiknya, Ashar Hanafi sekitar 45–90 menit lebih lambat dari Ashar Syafi'i tergantung musim dan lintang. Di Indonesia mayoritas memakai Syafi'i. Pengaturan ini terpisah dari metode Subuh/Isya.
- Bolehkah ganti metode jika pindah negara?
- Boleh. Anjurannya adalah mengikuti metode yang dipakai masjid lokal Anda agar sholat selaras dengan jamaah. Jika tinggal di tempat dengan beberapa masjid berbeda metode, memilih salah satu sah-sah saja — semuanya berlandaskan kajian ulama klasik. Cara paling praktis adalah memilih metode masjid terdekat tempat Anda biasa berjamaah.
- Apakah metode perhitungan memengaruhi Dzuhur, Ashar, dan Maghrib?
- Sebagian besar tidak. Dzuhur ditentukan zawal matahari (tengah hari) — semua metode setuju dalam selisih satu menit. Maghrib adalah matahari terbenam (cakram penuh di bawah ufuk) — juga disepakati kecuali Syiah yang menambah beberapa menit. Ashar bergantung mazhab (Hanafi vs mayoritas), bukan metode. Metode berbeda terutama pada SUBUH (senja sebelum terbit) dan ISYA (senja setelah terbenam) karena tak ada peristiwa ufuk yang teramati — keduanya ditetapkan oleh sudut depresi matahari, dan ulama memilih sudut berbeda.
Panduan Terkait
Lihat jadwal sholat untuk kota Anda
Default metode Kemenag RI. Bisa diganti kapan saja di Pengaturan.
Lihat jadwal sholat →