Lewati ke konten

Cara Perhitungan Jadwal Sholat: Kemenag RI, ISNA, dan MWL

Oleh Editorial Lead, Prayer Times Near Me9 menit baca

Jadwal sholat bukan ditebak — ia dihitung secara presisi dari posisi matahari menggunakan trigonometri. Panduan ini menjelaskan dasar perhitungannya, perbedaan antar metode (Kemenag, ISNA, MWL, Mesir, Karachi), perbedaan Ashar antara Mazhab Syafi'i dan Hanafi, serta solusi untuk kota di lintang tinggi.

Dasar: posisi matahari menentukan setiap waktu

Setiap waktu sholat diturunkan dari sudut ketinggian matahari di atas (atau di bawah) ufuk pada lokasi geografis tertentu. Lima waktu sholat memetakan lima posisi matahari:

  • Subuh / Fajar shadiq — saat matahari mencapai sudut tertentu di bawah ufuk timur (sebelum fajar)
  • Syuruq (terbit) — saat tepi atas matahari melewati ufuk (akhir waktu Subuh)
  • Dzuhur — saat matahari berada di titik tertinggi di langit (zawal)
  • Ashar — saat bayangan sebuah benda mencapai panjang tertentu relatif terhadap tingginya
  • Maghrib — saat matahari sepenuhnya tenggelam di bawah ufuk
  • Isya — saat matahari mencapai sudut tertentu di bawah ufuk barat (setelah syafak hilang)

Empat di antaranya — Dzuhur, Syuruq, Maghrib, dan Ashar — disepakati oleh semua ulama dan semua metode. Perbedaan antar aplikasi hampir seluruhnya pada Subuh dan Isya.

Matematika: bagaimana posisi matahari dihitung

Diberi lintang, bujur, dan tanggal — sudut ketinggian matahari pada momen apa pun dihitung dengan tiga input:

  • Deklinasi matahari — sudut antara matahari dan bidang ekuator Bumi; bervariasi dari −23.5° (Desember) sampai +23.5° (Juni)
  • Sudut waktu (hour angle) — jarak matahari dari posisi tengah hari, dalam derajat
  • Lintang pengamat — menentukan seberapa tinggi matahari naik dan berapa lama ia di atas ufuk

Formula intinya:

sin(ketinggian) = sin(lintang) × sin(deklinasi) + cos(lintang) × cos(deklinasi) × cos(sudut_waktu)

Untuk Subuh dan Isya, formula ini dibalik: kita tentukan sudut ambang di bawah ufuk, lalu pecahkan untuk mendapatkan sudut waktu — yaitu, jam berapa matahari mencapai sudut itu. Di sinilah perbedaan metode muncul.

Perbedaan metode Subuh dan Isya

Subuh dimulai pada fajar shadiq — saat cahaya putih horizontal pertama muncul di ufuk timur. Secara astronomi, ini setara dengan sudut tertentu matahari di bawah ufuk. Tradisi keilmuan yang berbeda menetapkan sudut yang berbeda berdasarkan observasi di berbagai lintang.

MetodeSudut SubuhSudut IsyaPenggunaan
Kemenag RI20°18°Indonesia (resmi)
ISNA15°15°Amerika Serikat
MWL (Liga Muslim Dunia)18°17°Eropa, Asia Timur Jauh
Otoritas Mesir19.5°17.5°Afrika, Suriah, Lebanon, Malaysia
Universitas Karachi18°18°Pakistan, Bangladesh, India, Afganistan
Umm Al-Qura (Mekkah)18.5°90 menit setelah Maghrib (tetap)Arab Saudi

Sudut Subuh yang lebih besar berarti matahari harus lebih dalam di bawah ufuk — yang artinya waktu Subuh dihitung lebih awal. Maka Kemenag (20°) memberikan waktu Subuh lebih awal dibanding ISNA (15°). Selisih ini di Indonesia umumnya 10-15 menit.

Cara perhitungan Ashar (Syafi'i vs Hanafi)

Berbeda dengan Subuh dan Isya, Ashar tidak ditentukan dari sudut matahari di bawah ufuk — melainkan dari panjang bayangan. Perbedaan ulama di sini:

  • Syafi'i, Maliki, Hanbali: Ashar masuk ketika bayangan sebuah benda sama dengan tingginya (shadow factor 1). Ini menghasilkan waktu Ashar lebih awal.
  • Hanafi: Ashar masuk ketika bayangan dua kali tinggi benda (shadow factor 2). Selisih bisa 30-60 menit lebih lambat — terutama di musim panas.

Mayoritas muslim Indonesia mengikuti Mazhab Syafi'i, sehingga jadwal Kemenag RI dan mayoritas aplikasi di Indonesia menggunakan shadow factor 1. Bagi yang mengikuti Mazhab Hanafi, perlu mengubah pengaturan ke shadow factor 2.

Tantangan lintang tinggi

Di kota dengan lintang ekstrem (di atas 48° LU atau di bawah 48° LS) — di musim panas senja astronomis bisa berlangsung sepanjang malam, artinya matahari tidak pernah mencapai sudut ambang Subuh atau Isya. Dalam kasus seperti ini, metode khusus dipakai:

  • Pertengahan malam: Isya ditetapkan ke tengah malam
  • 1/7 malam: Membagi malam jadi tujuh bagian
  • Berbasis sudut: Memakai hari terdekat ketika senja masih jelas berakhir
  • Lintang terdekat: Memakai jadwal sholat dari lokasi terdekat yang tidak mengalami masalah

Indonesia berada di lintang rendah (sekitar khatulistiwa), sehingga masalah ini tidak ada. Tetapi diaspora Indonesia di Belanda, Jerman, atau Skandinavia perlu memilih metode lintang tinggi pada aplikasi mereka di musim panas.

Akurasi jadwal sholat modern

Perhitungan jadwal sholat modern sangat akurat — dalam selisih 1-2 menit terhadap observasi fisik pada kondisi cuaca cerah. Sumber utama variasi antar aplikasi bukan matematika, melainkan pilihan metode dan koreksi ketinggian. Aplikasi tanpa koreksi ketinggian akan menampilkan Maghrib sedikit berbeda untuk kota pegunungan dibanding aplikasi yang mengkoreksinya.

Kami memvalidasi waktu sholat Indonesia di situs ini dengan tabel resmi Kemenag RI untuk tiap kota besar. Jika Anda menemukan selisih besar, hampir selalu itu karena ketidaksesuaian metode — silakan periksa pengaturan terlebih dahulu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa aplikasi yang berbeda menampilkan jadwal sholat yang berbeda?
Karena tiap aplikasi memakai metode perhitungan berbeda. Kemenag RI menetapkan sudut subuh 20° dan isya 18° di bawah ufuk. ISNA memakai 15°/15°, MWL 18°/17°, Mesir 19.5°/17.5°. Perbedaan 1-2 derajat saja sudah menghasilkan selisih beberapa menit pada waktu Subuh dan Isya.
Metode perhitungan jadwal sholat mana yang paling akurat?
Semua metode utama akurat secara astronomi — semuanya memakai trigonometri yang sama. Perbedaan hanya pada sudut ambang batas yang dipilih, dan itu adalah perbedaan ijtihad ulama, bukan kekeliruan matematika. Di Indonesia, rujukan yang paling otoritatif adalah jadwal Kemenag RI (subuh 20°, isya 18°).
Apakah jadwal sholat sama setiap hari?
Tidak. Posisi matahari berubah setiap hari karena orbit dan kemiringan sumbu Bumi. Di Indonesia (lintang rendah), pergeseran harian relatif kecil — sekitar 1-2 menit. Karena itulah kalender bulanan jadwal sholat tetap berguna.
Sudut berapa yang dipakai Kemenag RI untuk Subuh dan Isya?
Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan sudut Subuh 20° dan sudut Isya 18° di bawah ufuk. Penetapan ini berdasar Surat Keputusan Menteri Agama dan menjadi rujukan resmi seluruh jadwal sholat di Indonesia. Untuk waktu Ashar, mayoritas mengikuti Mazhab Syafi'i (gölgenin 1× tinggi benda + bayangan tengah hari).

Panduan Terkait