Lewati ke konten
Coba Pro Gratis

Dekorasi & Tradisi Ramadhan di Indonesia

Dari fanus dan bedug hingga ngabuburit dan sahur bersama keluarga — bagaimana umat Islam Indonesia menyambut bulan suci Ramadhan dengan tradisi yang kaya makna.

Menyambut Ramadhan dengan Suka Cita

Rasulullah ﷺ menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan suka cita dan memberikan kabar gembira kepada para sahabat: «Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu...» (HR Ahmad, an-Nasa'i, dan al-Baihaqi).

Mendekorasi rumah dan masjid saat Ramadhan adalah tradisi budaya yang berkembang di berbagai negara muslim sebagai ekspresi kegembiraan menyambut bulan suci. Selama tidak berlebihan dan tidak bertentangan dengan syariat, hal ini diperbolehkan dan dapat membantu menumbuhkan kecintaan anak-anak pada Ramadhan.

Fanus — Lampion Khas Ramadhan

Fanus (bahasa Arab: fānūs) adalah lampion atau lentera berbentuk khas yang menjadi simbol Ramadhan di seluruh dunia Islam. Asal-usulnya konon dari Mesir pada masa Dinasti Fatimiyah (abad ke-10 M), ketika fanus digunakan untuk menerangi jalan menuju masjid bagi jamaah yang hendak shalat tarawih dan tahajud.

Bentuk klasik fanus berupa kerangka logam berukir dengan kaca berwarna (merah, hijau, biru) yang ditembus cahaya lilin atau lampu di dalamnya. Sekarang fanus modern hadir dalam berbagai bentuk: dari lampion kertas sederhana, lampion LED, hingga fanus akrilik untuk dekorasi rumah. Di Indonesia, fanus banyak dipakai sebagai hiasan masjid, kantor, mal, dan rumah keluarga muslim menjelang dan selama Ramadhan.

Bedug — Tradisi Khas Indonesia

Bedug adalah alat musik pukul tradisional berbentuk silinder besar dari kayu yang ditutup kulit hewan di kedua sisinya. Bedug adalah ciri khas masjid-masjid Indonesia (terutama di Jawa) yang berfungsi sebagai penanda waktu shalat sebelum era pengeras suara modern.

Pada Ramadhan, bedug ditabuh untuk:

  • Membangunkan sahur — biasanya sekitar pukul 02.00-03.00 pagi, sering kali dilengkapi rombongan musik patrol yang berkeliling kampung.
  • Tanda waktu berbuka — bedug menjelang Maghrib menjadi penanda yang dinanti-nantikan jamaah yang berpuasa.
  • Sebelum shalat tarawih — sebagai pengingat agar jamaah segera berkumpul di masjid.
  • Malam takbiran Idul Fitri — bedug ditabuh sepanjang malam disertai gema takbir menyambut hari raya.

Tradisi festival bedug juga digelar di beberapa daerah seperti Pati, Demak, dan Jakarta untuk melestarikan budaya ini di kalangan generasi muda.

Tradisi Ngabuburit dan Berburu Takjil

Ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang berarti menunggu sore — istilah ini menyebar luas dan kini menjadi bahasa Indonesia. Ngabuburit adalah kegiatan menunggu waktu berbuka yang dilakukan di sore hari Ramadhan: jalan-jalan, kajian sore, bermain dengan anak, atau yang paling populer — berburu takjil di pasar Ramadhan.

Pasar Ramadhan adalah pasar dadakan yang muncul di seluruh kota di Indonesia menjelang sore. Ratusan pedagang menjajakan menu takjil khas: kolak pisang, es buah, es campur, kurma, gorengan (bakwan, risol, tahu isi), bubur kacang ijo, dan berbagai jajanan tradisional. Pasar Ramadhan terkenal seperti Bendungan Hilir (Benhil) di Jakarta, Kauman di Yogyakarta, dan Pasar Senen menjadi destinasi favorit warga.

Tarawih Berjamaah

Shalat tarawih adalah shalat sunnah malam khas Ramadhan yang dianjurkan dilakukan secara berjamaah di masjid. Rasulullah ﷺ bersabda: «Barangsiapa yang menegakkan shalat di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu» (HR Bukhari 37 dan Muslim 759).

Di Indonesia, sebagian besar masjid (yang mengikuti tradisi NU dan ormas Islam mayoritas) melaksanakan tarawih 20 rakaat + 3 witir = 23 rakaat, sementara sebagian (mengikuti tradisi Muhammadiyah dan pendapat lain) melaksanakan 8 rakaat tarawih + 3 witir = 11 rakaat. Keduanya memiliki dalil yang sah dan jamaah dipersilakan mengikuti sesuai keyakinan masing-masing tanpa perdebatan.

Tradisi Keluarga & Komunitas

  • Sahur bersama keluarga — momen langka di mana seluruh keluarga berkumpul di meja makan sebelum subuh.
  • Buka puasa bersama — di rumah, di masjid (banyak masjid menyediakan ta'jil gratis), atau bukber komunitas/alumni.
  • Tadarus Al-Qur'an — banyak masjid mengadakan khataman Al-Qur'an selama Ramadhan, dengan jamaah yang bergiliran membaca.
  • Sahur on the road — kegiatan komunitas membagikan makanan sahur kepada tunawisma dan pekerja malam.
  • Zakat fitrah dan zakat mal — dikumpulkan menjelang akhir Ramadhan untuk dibagikan sebelum Idul Fitri.
  • Mudik Lebaran — perjalanan jutaan orang pulang ke kampung halaman menjelang Idul Fitri, fenomena khas Indonesia.

Pelajari lebih dalam tentang kaligrafi Islam yang sering menghiasi banner dan dekorasi Ramadhan, atau pola geometris Islam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa itu fanus dan dari mana asalnya?
Fanus (bahasa Arab: فانوس) adalah lampion atau lentera khas Ramadhan yang berasal dari tradisi Mesir, konon sejak masa Dinasti Fatimiyah pada abad ke-10 M. Awalnya digunakan untuk menerangi jalan menuju masjid pada malam-malam Ramadhan. Sekarang fanus menjadi simbol Ramadhan di seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia, dan dipasang sebagai hiasan rumah, masjid, dan jalanan menjelang bulan suci.
Apa fungsi bedug pada bulan Ramadhan?
Bedug adalah alat musik pukul tradisional dari kayu dan kulit hewan yang menjadi penanda waktu shalat di masjid-masjid Indonesia, khususnya di Jawa. Pada Ramadhan, bedug ditabuh untuk membangunkan sahur (sekitar 02.00-03.00 pagi), menjelang Maghrib sebagai tanda berbuka, sebelum tarawih, dan terutama pada malam takbiran menyambut Idul Fitri. Tradisi membangunkan sahur dengan bedug atau musik patrol masih lestari di banyak kampung di Indonesia.
Apa itu tradisi ngabuburit?
Ngabuburit adalah istilah dari bahasa Sunda untuk kegiatan menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit = menunggu sore). Tradisi khas Indonesia ini berupa kegiatan ringan di sore hari Ramadhan — bisa berupa jalan-jalan, berburu takjil di pasar Ramadhan, kajian sore di masjid, berkumpul dengan keluarga, atau bermain dengan anak. Pasar Ramadhan dengan ratusan pedagang takjil (kolak, es buah, gorengan, bubur) menjadi pemandangan khas di seluruh kota Indonesia.
Bagaimana mendekorasi rumah untuk Ramadhan sesuai sunnah?
Tidak ada tuntunan khusus dari Rasulullah ﷺ untuk mendekorasi rumah saat Ramadhan, sehingga ini tergolong tradisi budaya yang diperbolehkan selama tidak berlebihan. Yang dianjurkan adalah memperbanyak ibadah dan kebersihan: bersihkan rumah agar nyaman untuk shalat berjamaah keluarga, sediakan ruang khusus untuk tilawah, pasang jadwal shalat dan imsak yang terlihat jelas. Hiasan seperti lampion, kaligrafi «Marhaban Ya Ramadhan», dan banner masjid kecil boleh dipakai sebagai pengingat dan untuk menyenangkan anak-anak agar mencintai Ramadhan.

Topik Terkait